Minggu, 27 September 2009

KARAKTERISASI TOKOH SLONONG BOY MILIONAIRE


Teman, inilah tiga tokoh sentral dalam novel Slonong Boy Millionaire; Kamal, Sa'im dan Latina. Sekedar berbagi, inilah karakterisasi yang saya buat. Selamat membaca. Kritik dan saran, tetap saya tunggu. Ha ha.

Kamal/JAMAL MALIK
(Suka Males)


CIRI FISIK:

1.Tampan, Tegap
2.Kulit item manis
3.Rambut lurus lebat
4.Pusar kepala ada dua
5.mirip Didi Riyadi Element, Gito lho.

KEBIASAAN:

1.Slonong boy (ga mau salaman)
2.Asal Ngomong, banyak benernya
3.Mudah menangis jika kepepet.
4.Ketawa Cuma 2 kata ”Ha ha..”
5.Awal kalimatnya ”jadi begini,” jika nimbrung, ”jadi begitu..”

INTERAKSI:

Tokoh Utama. Adiknya Sakim. Banyak mengalah sama sang Kakak. Jatuh cinta sama Latna. Jadi milyarder setelah menang quiz WHO WANT TO BE A JURAGAN.


Sa;im/SALIM
(Sangar dan Jaim)


CIRI FISIK:

1.Rintik berketombe,
2.Kulit Item abis.
3.Bibir tebal
4.Badan Buntet kekar
5.Mirip Budi Anduk!

KEBIASAAN:

1.Petantang-petenteng sok jago
2.Lengan kaos selalu dilingkis
3.Pernik2 khas Raper
4.ngomong suka pake ”Brew”
5.Mata duit abis!

INTERAKSI:

Tokoh pembantu. Kakak kandung Kamal (Cuma diragukan diri sendiri). Baik sama adik, terkadang jahat dan sok kuasa.

Latina/ LATIKA
(Telat Nanya)


CIRI FISIK:

Putih dan Manis
2.Rambut lurus sebahu
3.Bibir tipis
4.Mata tajam
5. Mirip Titi Kamal!

KEBIASAAN:

1.Suka duduk deprok seenaknya
2.Latah menari setiap denger musik
3.Suara cempreng Mpok Nori
4.Cengeng, Oon, bicaranya cadel
5.Hobi koleksi sendal bekas
6.Manggil nama sendiri ”Latina”

INTERAKSI:
Teman Kamal dan Sakim karena sama-sama dari pemukiman kumuh. Cinta sama Kamal. Tapi nggak cinta mati-mati amat! (BERSAMBUNG)

SINOPSIS SLONONG BOY MILLOINAIRE


Kamal dan Salim, kembar beda kulit beda rambut, terpaksa menjalani hidup di kerasnya Jakarta. Mereka tinggal di pemukiman kumuh PESELENONGAN (pecenongan) Jakarta. Sejak bertemu dengan artis idolanya Tukul Arwana yang menyebutnya sebagai Slonong Boy, Kamal pun memproklamirkan diri sebagai ”Kamal si Slonong Boy.” Salim, sang kakak bekerja sebagai penjaga empang lele milik RT. Kamdul.
Ibu mereka tewas saat petaka dan kekonyolan terjadi waktu Kamtib DKI menggusur paksa kawasan itu. Sang Ibu yang biasa menipu kalau ayannya kambuh itu, hari itu naas. Sang anak mengira ibunya yang sedang menggelepar-gelepar di sungai, pura-pura ayan. Rumah kebakaran gara-gara tukang bakso panik. Dalam kondisi chaos, Kamal dan Sakim asyik mencuri apa saja. Termasuk sandal butut Latina, gadis o’on maniak sandal butut. Gara-gara sandal, kemana saja Kamal dan Sakim pergi ia ikut.
Bertiga mereka jadi pemulung. Mereka kemudian ditarik oleh Mamad yang mengaku sebagai seniman. Di rumah Mamad, anak-anak diajari akting, olah vokal, olah tubuh, tata kostum dan properti artistik, arasemen lagu, dll. Tapi anehnya, dialog dan lagunya tidak boleh gembira. Harus sedih dan mengiba. Seperti, ”Kasihaaan, pak...” Tujuannya, untuk dijadikan sebagai PENGEMIS-PENGEMIS DAN PENGAMEN YANG MENJUNJUNG TINGGI KUALITAS DAN PROFESIONALIME.
Kamal dan Salim kabur gara-gara temannya, Arkan, digurah suara supaya menyanyinya lebih merdu dan pendapatannya lebih banyak. Arkan menangis dan muntah-muntah gara-gara ramuan dodol si dukun. Dalam pelarian, Latika tertangkap gara-gara sandalnya ketinggalan. Kelak mereka tahu, Mamad menyewa dukun palsu. Bukanya bagus, suara Arkan malah terdengar sengau. Usaha Mamad bangkrut dan banting stir jadi ketua kelompok lenong. Baginya, lenong hanya bermodal teriak aja!
Kamal dan Sakim kembali merebut Latina. Terjadi pertarungan dodol antara Mamad dan Sakim. Sakim menang. Mamad tewas gara-gara kena asma mendadak, saat komplek perumahannya di-fooging petugas untuk membasmi malaria.
Sakim dan Kamal salah paham. Sakim mimpi mengusir orang dan menunjuk-nunjuk Kamal. Kamal pun pergi. Beberapa tahun kemdian mereka bertemu. Sakim sudah jadi anak buah kepercayaan Juragan RAKUN, sang juara bertahan Quiz Who Want To Be A Juragan, yang biasa digelar lima sekali. Sementara Latina menjadi anak angkat kesayangan Rakun. Meski istri banyak, hidup Rakun selalu gelisah dan stress jika gelar juaranya direbit orang, sehingga ia tidak punya selera untuk berhubungan badan dengan para istrinya. Latina pun dibangunkan pabrik sandal.
Kamal tahu keberdaan Latina. Ia mencoba mendekati Rajun. Ia menjadi babu di rumah Rakun. Gara-gara ceroboh nyelonong di depan Rakun yang sedang menonton Quiz Who Want To Be A Juragan, Kamal pun dipecat. Suatu kebetulan, beberapa bulan kemudian Kamal ditelpon operator penjaringan peserta Quiz Who Want To Be A Juragan. Ia pun lolos. Latina memberikan kenang-kenangan sandal butut kepada Kamal. Kamal kesal dan melempar sandal itu. Tapi ia juga aneh. Kenapa dia bisa sayang Latina?
Segala pertanyaan dijawab ASBUN, asal bunyi, dnegan mengingat kisah konyol masa lalunya. Tapi tepat semua. Saat pertanyaan puncak, Kamal menggunakan bantuan PHONE A FRIEND. Kamal ingin menelpon Latika. Dasar Latika o’on, ternyata nomor yang dikasihkan itu adalah nomor ayah angkatnya; Rakun. Terjadinya kehebohan. Rakun adalah juara bertahan. Dan ini adalah pelanggaran Quiz. Kamal diinterogasi saat jeda iklan. Dan orang yang dihubungi pun diganti. Kamal menghubungi Sakim. Saat dihubungi, lagi-lagi Rakun yang mengangkat. Sakim yang oleh Rakun ketahuan saudaranya Kamal, ketakutan dan bersembunyi di dalam toilet rumah Rakun yang juga difasilitasi televisi. Sementara itu di studio Quiz ribut lagi. Panitia bingung! Akhirnya, dengan modal akting sedihnya, Kamal lolos jadi juragan tahun ini menggantikan Rakun. Sakim yang terlalu senang, terpeleset di toilet dan kepalanya masuk closet. Ia tewas nungging.
Rakun mengaku kalah. Namun Kamal hanya ingin Latina kembali. Rakun tetap tinggal bersamanya. Lagi-lagi, Latina O’on. Kamal diusir dari rumah sendiri, lantaran sendal kenang-kenangan darinya hilang entah ke mana. Jadilah kamal seorang milyarder yang setiap hari kerjanya hanya kasak-kusuk di tong sampah, slanang-slonong di rumah orang, masjid, sekolah, dan keramaian apa pun demi mendapat sandal kekasih O’onnya: Latina.

Novel Perdana


Tak mudah menulis novel. Butuh daya napas kuat dan fisik yang tangguh. Bahan sudah ada untuk diolah menjadi tulisan, namun fisik sudah meminta istirahat. Di sanalah komprominya. Terus atau istirahat? Persoalannya, jika novel yang kita garap tak ada sangkut paut dengan kesepakatan penerbit dan tak ada deadline, maka kita bisa enjoy menulis novel kapan pun. Berbeda dengan menulis novel yang sudah dipesan penerbit. Nah, itu terjadi pada saat saya menulis novel Slonong Boy Millionaire.